Rabu, 13 Februari 2008

Anak SMA Perlu Diberi Keterampilan?

Keprihatinan
Persepsi yang berkembang di masyarakat saat ini adalah bahwa siswa SMA tidak diarahkan pada keterampilan karena diharapkan bahwa mereka akan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Pertanyaannya adalah:
1. Berapa persen lulusan SMA yang melanjut ke perguruan tinggi?
2. Apakah dengan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, anak didik dapat dijamin memiliki keterampilan (skill) yang dibutuhkan untuk bekerja?
Pengalaman saya dan beberapa teman yang sudah cukup lama berkecimpung di industri garment dan elektronika misalnya mengindikasikan bahwa lebih dari 50% operator industri adalah lulusan SMA. Dengan kenyataan ini, apakah persepsi di atas masih relevan?

Lagi-lagi pengalaman saya menunjukkan bahwa seorang sarjana sekalipun sangat jarang memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh industri. Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebanyakan mahasiswa hanya berusaha mencari gelar, bukan keterampilan atau kompetensi.

Akibatnya, saat ini cukup banyak sarjana yang menganggur, dan lebih parah lagi ada yang terpaksa harus menggunakan ijazah SMA, yang penting dia bisa bekerja. Sangat menyedihkan bukan? Seorang sarjana yang sudah menghabiskan waktu dan biaya cukup besar untuk menyelesaikan pendidikannya di Perguruan Tinggi, ternyata harus menggunakan ijazah SMA untuk melamar pekerjaan.

Kenyataan ini sebenarnya sangat mengerikan dan menjadi salah satu sumber ketidak efisienan perekonomian nasional.

Merancang masa Depan
Namun ternyata tidak semuanya seburuk itu karena baru-baru ini saya & crew EDUTOUR berkunjung ke SMA Plus PGRI Cibinong dan mendapatkan bahwa SMA ini sudah menerapkan system yang sangat mendukung pada pengembangan bakat dan keterampilan siswa. Menurut Bapak Drs Agus Rohiman, Deputi Senior di Sekolah unggulan tersebut, bahwa anak didik harus merencanakan masa depannya sejak dini. Di sekolah ini, setiap anak diwajibkan membuat RANCANGAN MASA DEPAN, sejak kelas 10 (satu SMA).
Beliau dengan penuh semangat menjelaskan bahwa seorang anak yang bercita-cita jadi seorang dokter misalnya harus paham apa yang dilakukan oleh seorang dokter, dan harus mempunyai model dokter yang paling dianggap Top. Selanjutnya siswa tersebut ditugasi membaca biografi dari sang model dan meniru apa yang pernah dilakukannya. Si siswa juga diwajibkan untuk hidup seharian bersama seorang dokter yang dianggap menjadi panutan.
Sangat indah bukan?

Si siswa tidak akan menjadi dokter setelah dia lulus SMA, tetapi dia akan lebih dapat mempersiapkan diri menjadi seorang dokter sejak dini, termasuk memilih perguruan tinggi yang dia inginkan, dan yang lebih penting adalah motivasi belajar saat dia menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran pilihannya itu.

Demikian juga seorang siswa yang bercita-cita menjadi seorang insinyur terkenal, pengusaha terkenal dan sebagainya. Dia harus menanamkan apa yang diinginkannya dan merencanakan untuk mencapainya dengan seksama sejak dini.

Nah, sekarang bagaimana, apakah anda masih berpikir bahwa anak SMA tidak perlu diberi keterampilan?

0 comments:

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template